BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Karies
Masalah utama kesehatan gigi dan
mulut anak ialah karies gigi. Penyakit gigi ini paling sering diderita oleh
hampir semua penduduk Indonesia. Riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2007
menyebutkan bahwa prevalensi karies aktif di Indonesia sebesar 46,5%.
Berdasarkan laporan RISKESDAS 2013, indeks DMF-T meningkat seiring dengan
bertambahnya umur yaitu sebesar 1,4 pada kelompok umur 12 tahun, kemudian 1,5
pada umur 15 tahun, dan 1,6 pada umur 18 tahun (Worotitjan, 2013 & Trihono,
2013).
Karies gigi merupakan suatu penyakit
jaringan keras gigi yang disebabkan oleh empat faktor utama yaitu faktor host
yang meliputi gigi, saliva, mokroorganisme, subtrat serta waktu sebagai faktor
tambahan. Selain faktor utama yang menyebabkan karies ada pula faktor yang
secara tidak langsung menyebabkan karies namun berpengaruh terhadap
perkembangan karies yang disebut faktor modifikasi. Faktor – faktor tersebut
adalah umur, keturunan, jenis kelamin, faktor sosial dan geografis (Senawa,
2015).
2.2. Pengertian Pit dan Fissure
Pit adalah titik terdalam berada pada
pertemuan antar beberapa groove atauakhir dari groove. Istilah pit sering berkaitan
dengan fisura. Fissure adalah garis berupa celah yang dalam pada permukaan gigi
(Wheeler, 1974). Macam pit dan fissure bervariasi bentuk dan kedalamannya,
dapat berupa tipe U (terbuka cukup lebar); tipe V (terbuka, namun sempit); tipe
I (bentuk seperti leher botol).Bentuk pit dan fissure bentuk U cenderung
dangkal, lebar sehingga mudah dibersihkan dan lebih tahan karies. Sedangkan
bentuk pit dan fisura bentuk V atau I cenderung dalam, sempit dan berkelok
sehingga lebih rentan karies. Bentukan ini mengakibatkan penumpukan plak,
mikroorganisme dan debris. Morfologi permukaan oklusal gigi bervariasi berbagai
individu. Pada umumnya bentuk oklusal pada premolar nampak dengan tiga atau
empat pit. Pada molar biasanya terdapat sepuluh pit terpisah dengan fisura
tambahan (Pinkham, 1994).
2.3. Pengertian Fissure Sealant
Fissure sealant
merupakan bahan yang di letakkan pada pit dan fissure gigi yang bertujuan untuk
mencegah proses karies gigi. Fissure sealant diberikan pada awal erupsi gigi
agar dapat mencegah bakteri sisa makanan yang berada dalam pit dan fissure (Sari Kervanto, 2009).
Tujuan utama
diberikannya fissure sealant adalah agar terjadinya penetrasi bahan ke dalam
pit dan fissure dan berpolimerisai sehingga menutup daerah tersebut dari
masuknya bakteri dan debris. Pertimbangan lain yang perlu diperhatikan dalam
pemberian fissure sealant adalah umur anak yang berhubungan dengan waktu awal
erupsi gigi-gigi tersebut. Umur 3-4 tahun merupakan waktu yang tepat untuk
pemberian fissure sealant pada gigi sulung; umur 6-7 tahun merupakan saat
erupsi gigi permanen molar pertama; umur 11-13 tahun merupakan saatnya molar
kedua dan premolar erupsi (Luthfi M, 2011).
BAB III PEMBAHASAN
3.1. Skenario
Imunisasi Gigi
Tanggal 16 April 2017 FKG Unims
mengadakan bakti sosial di SD binaan (SD Kedungmundu 1,2, dan 30) siswa yang
diperiksa adalah siswa kelas 2 dan 3, kegiatan yang dilakukan adalah screening
dan imunisasi gigi. Sebelumnya telah dilakukan sosialisasi kepada orang tua
murid. Setelah mendapatkan persertujuan tertulis dan orang tua murid, siswa-
siswi kelas 2 dan 3 dilakukan perawatan imunisasi gigi pada beberapa gigi,
dengan karies tidak karies dan gigi dengan cekungan dalam.
3.2. Skema
3.3. Macam-Macam
Tipe Pit dan Fissure
Pit
dan fisura adalah suatu daerah pada permukaan oklusal gigi yang paling mudah
terserang karies. Hal ini dihubungkan dengan anatomi dan morfologi pit dan
fisura pada permukaan oklusal dan bukal. Fisura didefinisikan sebagai
diskontinuitas pada cups yang terjadi karena 2 cups gagal terbentuk pada
permukaannya, sedangkan pit merupakan diskontinuitas pada sisi yang lain.
Klasifikasi pit dan fisura terdiri dari 2 tipe yaitu, pertama, fisura dengan
bentuk V, dangkal, lebar, dan mudah dibersihkan, dan kedua, fisura dengan
bentuk I, dalam, sempit dan bentuk leher botol yaitu fisura dengan celah yang
sempit dengan dasar yang meluas kearah ‘dentino
enamel junction’ (Pratiwi, 1996).
Fisura
tipe kedua merupakan tipe yang rawan terhadap proses karies karena bentuk
morfologi yang demikian memudahkan terjadinya penumpukan organik pada orifis
pit dan fisura yang terdiri dari sisa sel epitelium enamel, mikroorganisme, dan
debris. Bila hal ini berlangsung lama karena daerah tersebut tidak dapat
dibersihkan dengan baik maka terbentuklah asam yang menyebabkan demineralisasi
pada permukaan orifis pit dan fisura yang secara klinis ditandai dengan adanya
bercak putih. Berdasarkan prsentase penyebaran karies pada pit dan fisura
dilaporkan oleh Nebrun yaitu tipe V, morfologi pit dan fisura lebar pada
puncaknya dan menyempir pada dasar fisur (34%); tipe U, lebar pada puncak
hampir sama dengan lebar pada dasar fisur (4%); tipe I, fisura dengan celah
yang sangat sempit (19%); tipe IK, dimana terdapat saluran yang sangat sempit,
kemudian terdapat celah lebar pada dasarnya (26%); dan tipe lainnya seperti
huruf Y terbalik dengan bifuskasi pada dasar fisura (7%) (Pratiwi, 1996).
3.4. Indikasi dan Kontra Indikasi Fissure Sealant
3.5.1. Indikasi
Fissure Sealant (Anusavice, 2004 & Godhane, et al, 2015):
a. Pit
and fissure yang dalam dan sempit
b. Terdapat noda pada pit and fissure
c. Gigi
bebas karies pada bagian pit and fissure
d. Oral
hygine buruk atau indeks plak buruk
e. Tidak
terdapat karies proksimal secara klinis ataupun radiografi
f. Pasien
dengan perawatan orthodontik
g. Gigi
geligi yang telah erupsi kurang dari 4 tahun
h. Isolasi
adekuat terhadap kontaminasi saliva
3.5.2. Kontra
Indikasi Fissure Sealant (Anusavice, 2004 & Godhane, et al, 2015):
a. Diet
seimbang atau diet rendah gula
b. Oral
hygine baik atau indeks plak baik
c. Gigi
dengan pit and fissure dangkal atau datar
d. Isolasi
daerah kerja tidak mungkin dilakukan
e. Terdapat
karies proksimal secara klinis ataupun radiografi
3.5. Bahan yang dapat Digunakan dalam Tindakan Fissure Sealant
3.5.3. Fissure
Sealant Berbasis Resin
Bahan dasar
resin modern adalah resin Bowen, tersedia dua macam resin, yaitu resin dengan
pengerasan menggunakan sinar dan resin dengan pengerasan secara kimia. Beberapa
penelitian menunjukkan bahwa resin dapat menghentikan perkembangan lebih lanjut
dari lesi dentin (Ahmad, 2015).
Kelebihan
dari resin dengan pengerasan menggunakan sinar adalah operator dapat
mengendalikan pengerasannya, sedangkan kekurangannya perlu biaya tambahan untuk
sumber cahaya dan pemeliharaannya (Ahmad, 2015).
Komposisi bahan fissure
sealant berbasis resin menurut (Avidhianita,dkk, 2014) antara lain;
a. Matriks
Matriks merupakan
komponen utama dalam rsin yang dapat menginisiasi polimerisasi adisi. Matriks
organik resin terdiri dari campuran 2 monomer dimetakrilat. Terdapay berbagai
macam matriks resin, yaitu;
a) 2,2-bis[4(2-hydroxy-3-methacryloxy-propyloxy)-phenyl]propane
(Bis-GMA)
b) UDMA
c) Triethylene glycoldimethacrylate
(TEGDMA)
d) Bis-EMA
b. Filler
Filler
merupakan komponen anorganik yang mengisi sebagaian besar volume atau berat
komposit. Pebambahan filler dalam
resin komposit bertujuan untuk memberikan strenght,
stiffness, radiopasitas, serta
meningkatkan kekerasan dan ketahanan material. Selain itu filler juga dapat mengontrol terjadinya shrinkage saat polimerisasi, kontraksi, dan ekspansi termal, water
sorption, serta mengurangi staining
c. Coupling agent
Coupling agent berada pada filler sebelum dicampur dengan matriks saat pabrikasi. Coupling agent berfungsi sebagai pengikat antara filler dan matriks, serta
sebagai stress absorber. Jenis coupling
agent yang paling sering digunakan
adalah senyawa silikon organik 3-methacryloxypropyltrimethoxysilane
(MPTS) atau silane.
d. Sistem
inisiator – akselerator
Pengerasan resin
komposit dapat diinisiasi oleh cahaya atau reaksi kimia. Aktivasi cahaya
terjadi oleh cahaya biru dengan panjang gelombang 465nm yang diabsorbi oleh photo-sensitizer, seperti camphorquinone 0,1-1% yang ditambahkan
ke dalam campuran monomer saat pabrikasi.
Menurut Avidhianita, dkk (2014) sifat bahan fissure sealant berbasis resin memiliki sifat mekanik resin sealant, seperti kekerasan dan kekuatan
tidak sebaik resin komposit untuk restorasi karena sealant tidak langsung menerima beban oklusal. Pada resin sealant
partikel filler ditambahkan hingga
40% dari berat total. Terdapat peningkatan modulus elastisitas dan kekakuan
yang menyebabkan material lebih tidak tahan terhadap stress oklusal dan wear resistance
meningkat. Resin sealant memiliki tegangan permukaan yang tinggi, wetting yang baik dan viskositas yang
rendah sehingga dapat mengalir dengan baik pada permukaan email.
Materi sealant
yang umum digunakan adalah tipe light
cured. Resin sealant juga tersedia dalam berbagai warna, yaitu sewarna gigi
untuk memberikan tampilan yang natural atau warna lebih opaque atau merah muda
untuk memudahkan saat kontrol. Di pasaran juga terdapat material sealant yang dapat melepaskan fluor dengan
konsentrasi tingga pada 24 jam pertama dan rendah sebagai pemeliharaan (Avidhianita, dkk, 2014).
Menurut Anusavice
(2004), sifat bahan fissure sealant berbasis resin antara lain:
a. Mekanis
yang baik
b. Kelarutan
bahan yang rendah
c. Radiopaque
d. Kekasaran
permukaan dapat menjadi retensi plak
e. Isolator
termis baik
f. Koefisien
termal tinggi
g. Warna
dapat disesuaikan
h. Pengerutan
polimerisasi tinggi
Indikasi
bahan fissure berbasis resin antara lain:
a. Pada
gigi permanen
b. Gigi
dengan daya kunya tinggi
c. Daerah
dengan insidensi karies relatif rendah
d. Gigi
erupsi sempurna
e. Area
yang kontaminasi yang mudah dikontrol
3.5.4. Fissure
Sealant GIC
Semen ionomer kaca
merupakan salah satu bahan restorasi yang memiliki sifat adhesif terhadap email
dan dentin secara kimia dan memiliki warna yang menyerupai warna gigi asli.
Semen ionomer kaca mengandung glas aluminosilikat dan asam poliakrilat.
Pengetsaan email tidak diperlukan namun debris organik harus dibersihkan dengan
menggunakan bahan kondisioner khusus yang terdapat di kemasannya (asam
poliakrilat).
Semen ionomer kaca
memiliki kandungan fluoride, dapat melepaskan ion fluor dalam jangka
panjang sehingga berfungsi sebagai tempat penyimpanan fluoride serta
berikatan dengan dentin dan email secara kimiawi melalui mekanisme pertukaran
ion. Keuntungan dari bahan ini yaitu perlekatan ionik permanen terhadap
struktur gigi dan kapasitas untuk melepas fluoride, memiliki
biokompabilitas yang baik terhadap jaringan gigi, solubilitas rendah, anti
karies, perubahan dimensi kecil, dan tahan terhadap fraktur. Kerugian dari
bahan ini yaitu tidak dapat menerima tekanan kunyah yang besar, mudah abrasi,
dan erosi serta translusennya lebih rendah.
Menurut Anusavice (2004),
sifat bahan fissure GIC antara lain:
a. Kekerasan
GIC relatif lebih rendah dari fissure sealant berbasis resin
b. Sifat
adhesi baik
c. Ikatan
kimia baik
d. Dapat
melepas fluor
e. Mudah
larut dalam cairan
Indikasi
bahan fissure berbasis resin antara lain:
a. Diaplikasi
pada gigi sulung
b. Gigi
dengan daya kunya relatif rendah
c. Daerah
dengan insidensi karies relatif tinggi
d. Gigi
yang belum erupsi sempurna
e. Area
yang kontaminasi yang sulit dihindari
f. Pada
pasien yang kurang kooperatif
3.6. Alat dan Bahan yang Digunakan dalam Tindakan Fissure Sealant
Menurut (Lesser,2011) alat dan bahan yang
digunakan dalam tindakan fissure sealant antara lain:
a. Oral
diagnostic set
b. Brush
c. Pumis
d. Syringe
e. Catton
roll atau rubber dam
f. Articulating
paper
g. Handpiece
h. Bahan
fissure sealant (berbasis resin atau GIC)
3.7. Prosedur
Tindakan Fissure Sealant
3.5.5. Sealant
berbasis resin (Lesser, 2001):
a. Pembersihan
pit dan fisura dengan brush dan pumis
Syarat
pumis:
· Abrasif
ringan
· Tidak
ada campuran perasa
· Tidak
mengandung minyak
· Tidak
mengandung fluor
· Kemampuan
poles baik
· Mampu
menghilangkan debris, plak, dan stain
b. Bilas
dengan air
Syarat
air:
· Bersih
· Tidak
mengandung mineral
· Tidak
terkontaminasi
c. Isolasi
gigi dengan catton roll atau rubber dam
d. Keringkan
permukaan gigi selama 20-30 detik dengan udara
Syarat udara:
· Udara
kering
· Udara
tidak lembab
· Tidak
terkontaminasi
· Dihembuskan
langsun pada permukaan daerah kerja dengan tekanan rendah
e. Pengetsaan
Syarat
bahan etsa:
· Lama
pengetsaat sesuai instruksi pabrik
· Jika
bentuk gel, maka pertahankan gel berada di permukaan gigi sampai waktu etsa
cukup
· Jika
bentuk cair, maka harus terus- menerus diberikan pada permukaan gigi sampai
waktu etsa cukup
f. Bilas
dengan air selam 60 detik
g. Keringkan
dengan udara
h. Aplikasikan
bahan sealant berbasis resin
i. Evaluasi
permukaan oklusal
Tindakan
evaluasi:
· Cek
oklusi dengan articulating paper
· Penyesuaian
atau pengurangan bahan yang berlebih
3.5.6. Sealant
GIC (Departement of Health North Sidney, 2008):
a. Pembersihan
pit dan fisura dengan brush dan pumis
b. Bilas
dengan air
c. Isolasi
gigi dengan catton roll atau rubber dam
d. Keringkan
permukaan gigi selama 20-30 detik dengan udara
e. Aplikasikan
bahan dentin conditioner selama 10-20 detik (sesuai instruksi pabrik)
f. Bilas
dengan air selama 60 detik
g. Keringkan
permukaan dengan udara bertekanan rendah selama 20-30 detik
h. Manipulasi
bahan Sealant GIC
i. Aplikasikan
bahan Sealant GIC ke kavitas
j. Segera
aplikasikan bahan varnis setelah bahan Sealant GIC selesai diaplikasikan
k. Evaluasi
permukaan oklusal
3.8. Evaluasi Fissure Sealant saat Kontrol
Menurut Welburg, et al
(2004) dan Departement of Health North Sidney (2008), evaluasi fissure sealant
yang dapat dilakukan pada saat kontrol adalah pasien di beritahukan untuk
kontrol 6 bulan sekali dan operator atau
dokter gigi memantau semua permukaan gigi yang dilakukan tidakan gissure
sealant tertutup rapat secara klinis dan radiografi, jika pasien memiliki
status risiko dan terdapat kecurigaan. Namun jika diketahui terjadi kerusakan
pada bahan fissure sealant tersebut, maka segera dilakukan aplikasi bahan
fissure sealant ulang dengan alasan gigi yang dilakukan fissure sealant masih
bebas karies.
3.9. Apakah Fissure Sealant dapat Diterapkan pada Pasien Dewasa?
Menurut Anwar (2016), molar pertama
permanen merupakan gigi yang paling sering rusak akibat dari karies dan juga
merupakan gigi yang paling sering direstorasi, bahkan sebanyak 70% gigi molar
pertama permanen yang terkena karies harus dicabut. Molar pertama permanen
erupsi sebelum gigi geligi susu tanggal dan gigi ini merupakan gigi yang tidak
menggantikan gigi susu. Molar pertama permanen merupakan gigi permanen yang
pertama kali erupsi, yaitu pada umur 6-7 tahun dan akar gigi terbentuk sempurna
pada usia 9-10 tahun.
Tujuan utama diberikannya
fissure sealant adalah agar terjadinya penetrasi bahan ke dalam pit dan
fissure dan berpolimerisai sehingga menutup daerah tersebut dari
masuknya bakteri dan debris. Pertimbangan lain yang perlu diperhatikan dalam
pemberian fissure sealant adalah umur anak yang berhubungan dengan waktu
awal erupsi gigi-gigi tersebut. Umur 3-4 tahun merupakan waktu yang tepat untuk
pemberian fissure sealant pada gigi sulung; umur 6-7 tahun merupakan
saat erupsi gigi permanen [1]molar
pertama; umur 11-13 tahun merupakan saatnya molar kedua dan premolar erupsi.(Anwar, 2016)
BAB IV PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Pit dan fisura adalah
suatu daerah pada permukaan oklusal gigi yang paling mudah terserang karies.
Hal ini dihubungkan dengan anatomi dan morfologi pit dan fisura pada permukaan
oklusal dan bukal. Fisura didefinisikan sebagai diskontinuitas pada cups yang
terjadi karena 2 cups gagal terbentuk pada permukaannya, sedangkan pit
merupakan diskontinuitas pada sisi yang lain.
Fissure sealant merupakan
bahan yang di letakkan pada pit dan fissure gigi yang bertujuan untuk mencegah
proses karies gigi. Fissure sealant diberikan pada awal erupsi gigi agar dapat
mencegah bakteri sisa makanan yang berada dalam pit dan fissure.
Umur
3-4 tahun merupakan waktu yang tepat untuk pemberian fissure sealant pada gigi
sulung; umur 6-7 tahun merupakan saat erupsi gigi permanen molar pertama; umur
11-13 tahun merupakan saatnya molar kedua dan premolar erupsi.
4.2. Hadits
Dari Umar r.a bahwa
Rasulullah bersabda “ Amal perbuatan
paling utama adalah membuat orang mukmin bahagia; menutup aibnya, mengenyangkan
rasa laparnya, dan memenuhi kebutuhannya.” (HR. Tabrani)
Penjelasannya:
Tidak diragukan lagi
bahwa manfaat besar yang dapat diraih seorang mukmin yang membantu saudaranya
adalah pertolongan dan bantuan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya, selagi hamba
itu menolong saudaranya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala
memperlakukan seorang hamba sesuai kehendak-Nya. Dia memberikan ilham kepada
manusia untik bersegera menolong orang yang memberikan bantuan pada saudaranya
dan berusaha melayaninya dengan baik, memenuhi kebutuhannya, dan memperhatikan
urusannya (Musthafa & Muhyiddin, 2014).

0 comments:
Post a Comment