Post Top Ad

LightBlog

Tuesday, August 8, 2017

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1.    Karies

Masalah utama kesehatan gigi dan mulut anak ialah karies gigi. Penyakit gigi ini paling sering diderita oleh hampir semua penduduk Indonesia. Riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2007 menyebutkan bahwa prevalensi karies aktif di Indonesia sebesar 46,5%. Berdasarkan laporan RISKESDAS 2013, indeks DMF-T meningkat seiring dengan bertambahnya umur yaitu sebesar 1,4 pada kelompok umur 12 tahun, kemudian 1,5 pada umur 15 tahun, dan 1,6 pada umur 18 tahun (Worotitjan, 2013 & Trihono, 2013).
Karies gigi merupakan suatu penyakit jaringan keras gigi yang disebabkan oleh empat faktor utama yaitu faktor host yang meliputi gigi, saliva, mokroorganisme, subtrat serta waktu sebagai faktor tambahan. Selain faktor utama yang menyebabkan karies ada pula faktor yang secara tidak langsung menyebabkan karies namun berpengaruh terhadap perkembangan karies yang disebut faktor modifikasi. Faktor – faktor tersebut adalah umur, keturunan, jenis kelamin, faktor sosial dan geografis (Senawa, 2015).

2.2.    Pengertian Pit dan Fissure

Pit adalah titik terdalam berada pada pertemuan antar beberapa groove atauakhir dari groove. Istilah pit sering berkaitan dengan fisura. Fissure adalah garis berupa celah yang dalam pada permukaan gigi (Wheeler, 1974). Macam pit dan fissure bervariasi bentuk dan kedalamannya, dapat berupa tipe U (terbuka cukup lebar); tipe V (terbuka, namun sempit); tipe I (bentuk seperti leher botol).Bentuk pit dan fissure bentuk U cenderung dangkal, lebar sehingga mudah dibersihkan dan lebih tahan karies. Sedangkan bentuk pit dan fisura bentuk V atau I cenderung dalam, sempit dan berkelok sehingga lebih rentan karies. Bentukan ini mengakibatkan penumpukan plak, mikroorganisme dan debris. Morfologi permukaan oklusal gigi bervariasi berbagai individu. Pada umumnya bentuk oklusal pada premolar nampak dengan tiga atau empat pit. Pada molar biasanya terdapat sepuluh pit terpisah dengan fisura tambahan (Pinkham, 1994).

2.3.    Pengertian Fissure Sealant

Fissure sealant merupakan bahan yang di letakkan pada pit dan fissure gigi yang bertujuan untuk mencegah proses karies gigi. Fissure sealant diberikan pada awal erupsi gigi agar dapat mencegah bakteri sisa makanan yang berada dalam pit dan fissure (Sari Kervanto, 2009).
Tujuan utama diberikannya fissure sealant adalah agar terjadinya penetrasi bahan ke dalam pit dan fissure dan berpolimerisai sehingga menutup daerah tersebut dari masuknya bakteri dan debris. Pertimbangan lain yang perlu diperhatikan dalam pemberian fissure sealant adalah umur anak yang berhubungan dengan waktu awal erupsi gigi-gigi tersebut. Umur 3-4 tahun merupakan waktu yang tepat untuk pemberian fissure sealant pada gigi sulung; umur 6-7 tahun merupakan saat erupsi gigi permanen molar pertama; umur 11-13 tahun merupakan saatnya molar kedua dan premolar erupsi (Luthfi M, 2011).

BAB III PEMBAHASAN

3.1.    Skenario

Imunisasi Gigi
Tanggal 16 April 2017 FKG Unims mengadakan bakti sosial di SD binaan (SD Kedungmundu 1,2, dan 30) siswa yang diperiksa adalah siswa kelas 2 dan 3, kegiatan yang dilakukan adalah screening dan imunisasi gigi. Sebelumnya telah dilakukan sosialisasi kepada orang tua murid. Setelah mendapatkan persertujuan tertulis dan orang tua murid, siswa- siswi kelas 2 dan 3 dilakukan perawatan imunisasi gigi pada beberapa gigi, dengan karies tidak karies dan gigi dengan cekungan dalam.

3.2.    Skema





3.3.    Macam-Macam Tipe Pit dan Fissure

Pit dan fisura adalah suatu daerah pada permukaan oklusal gigi yang paling mudah terserang karies. Hal ini dihubungkan dengan anatomi dan morfologi pit dan fisura pada permukaan oklusal dan bukal. Fisura didefinisikan sebagai diskontinuitas pada cups yang terjadi karena 2 cups gagal terbentuk pada permukaannya, sedangkan pit merupakan diskontinuitas pada sisi yang lain. Klasifikasi pit dan fisura terdiri dari 2 tipe yaitu, pertama, fisura dengan bentuk V, dangkal, lebar, dan mudah dibersihkan, dan kedua, fisura dengan bentuk I, dalam, sempit dan bentuk leher botol yaitu fisura dengan celah yang sempit dengan dasar yang meluas kearah ‘dentino enamel junction’ (Pratiwi, 1996).
Fisura tipe kedua merupakan tipe yang rawan terhadap proses karies karena bentuk morfologi yang demikian memudahkan terjadinya penumpukan organik pada orifis pit dan fisura yang terdiri dari sisa sel epitelium enamel, mikroorganisme, dan debris. Bila hal ini berlangsung lama karena daerah tersebut tidak dapat dibersihkan dengan baik maka terbentuklah asam yang menyebabkan demineralisasi pada permukaan orifis pit dan fisura yang secara klinis ditandai dengan adanya bercak putih. Berdasarkan prsentase penyebaran karies pada pit dan fisura dilaporkan oleh Nebrun yaitu tipe V, morfologi pit dan fisura lebar pada puncaknya dan menyempir pada dasar fisur (34%); tipe U, lebar pada puncak hampir sama dengan lebar pada dasar fisur (4%); tipe I, fisura dengan celah yang sangat sempit (19%); tipe IK, dimana terdapat saluran yang sangat sempit, kemudian terdapat celah lebar pada dasarnya (26%); dan tipe lainnya seperti huruf Y terbalik dengan bifuskasi pada dasar fisura (7%) (Pratiwi, 1996).

3.4.    Indikasi dan Kontra Indikasi Fissure Sealant

3.5.1.       Indikasi Fissure Sealant (Anusavice, 2004 & Godhane, et al, 2015):
a.     Pit and fissure yang dalam dan sempit
b.    Terdapat  noda pada pit and fissure
c.     Gigi bebas karies pada bagian pit and fissure
d.    Oral hygine buruk atau indeks plak buruk
e.     Tidak terdapat karies proksimal secara klinis ataupun radiografi
f.     Pasien dengan perawatan orthodontik
g.    Gigi geligi yang telah erupsi kurang dari 4 tahun
h.    Isolasi adekuat terhadap kontaminasi saliva
3.5.2.       Kontra Indikasi Fissure Sealant (Anusavice, 2004 & Godhane, et al, 2015):
a.     Diet seimbang atau diet rendah gula
b.    Oral hygine baik atau indeks plak baik
c.     Gigi dengan pit and fissure dangkal atau datar
d.    Isolasi daerah kerja tidak mungkin dilakukan
e.     Terdapat karies proksimal secara klinis ataupun radiografi 

3.5.    Bahan yang dapat Digunakan dalam Tindakan Fissure Sealant

3.5.3.       Fissure Sealant Berbasis Resin
Bahan dasar resin modern adalah resin Bowen, tersedia dua macam resin, yaitu resin dengan pengerasan menggunakan sinar dan resin dengan pengerasan secara kimia. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa resin dapat menghentikan perkembangan lebih lanjut dari lesi dentin (Ahmad, 2015).
Kelebihan dari resin dengan pengerasan menggunakan sinar adalah operator dapat mengendalikan pengerasannya, sedangkan kekurangannya perlu biaya tambahan untuk sumber cahaya dan pemeliharaannya (Ahmad, 2015).
Komposisi bahan fissure sealant berbasis resin menurut (Avidhianita,dkk, 2014) antara lain;
a.      Matriks
Matriks merupakan komponen utama dalam rsin yang dapat menginisiasi polimerisasi adisi. Matriks organik resin terdiri dari campuran 2 monomer dimetakrilat. Terdapay berbagai macam matriks resin, yaitu;
a)     2,2-bis[4(2-hydroxy-3-methacryloxy-propyloxy)-phenyl]propane (Bis-GMA)
b)     UDMA
c)     Triethylene glycoldimethacrylate (TEGDMA)
d)     Bis-EMA
b.   Filler
Filler merupakan komponen anorganik yang mengisi sebagaian besar volume atau berat komposit. Pebambahan filler dalam resin komposit bertujuan untuk memberikan strenght, stiffness, radiopasitas, serta meningkatkan kekerasan dan ketahanan material. Selain itu filler juga dapat mengontrol terjadinya shrinkage saat polimerisasi, kontraksi, dan ekspansi termal, water sorption, serta mengurangi staining
c.    Coupling agent
Coupling agent berada pada filler sebelum dicampur dengan matriks saat pabrikasi. Coupling agent berfungsi sebagai pengikat antara filler dan matriks, serta sebagai stress absorber. Jenis coupling agent yang paling sering digunakan adalah senyawa silikon organik 3-methacryloxypropyltrimethoxysilane (MPTS) atau silane.
d.   Sistem inisiator – akselerator
Pengerasan resin komposit dapat diinisiasi oleh cahaya atau reaksi kimia. Aktivasi cahaya terjadi oleh cahaya biru dengan panjang gelombang 465nm yang diabsorbi oleh photo-sensitizer, seperti camphorquinone 0,1-1% yang ditambahkan ke dalam campuran monomer saat pabrikasi.
Menurut Avidhianita, dkk (2014) sifat bahan fissure sealant berbasis resin memiliki sifat mekanik resin sealant, seperti kekerasan dan kekuatan tidak sebaik resin komposit untuk restorasi karena sealant tidak langsung menerima beban oklusal. Pada resin sealant partikel filler ditambahkan hingga 40% dari berat total. Terdapat peningkatan modulus elastisitas dan kekakuan yang menyebabkan material lebih tidak tahan terhadap stress oklusal dan wear resistance meningkat. Resin sealant memiliki tegangan permukaan yang tinggi, wetting yang baik dan viskositas yang rendah sehingga dapat mengalir dengan baik pada permukaan email.
Materi sealant yang umum digunakan adalah tipe light cured. Resin sealant juga tersedia dalam berbagai warna, yaitu sewarna gigi untuk memberikan tampilan yang natural atau warna lebih opaque atau merah muda untuk memudahkan saat kontrol. Di pasaran juga terdapat material sealant yang dapat melepaskan fluor dengan konsentrasi tingga pada 24 jam pertama dan rendah sebagai pemeliharaan (Avidhianita, dkk, 2014).
Menurut Anusavice (2004), sifat bahan fissure sealant berbasis resin antara lain:
a.      Mekanis yang baik
b.     Kelarutan bahan yang rendah
c.      Radiopaque
d.     Kekasaran permukaan dapat menjadi retensi plak
e.      Isolator termis baik
f.      Koefisien termal tinggi
g.     Warna dapat disesuaikan
h.     Pengerutan polimerisasi tinggi
Indikasi bahan fissure berbasis resin antara lain:
a.      Pada gigi permanen
b.     Gigi dengan daya kunya tinggi
c.      Daerah dengan insidensi karies relatif rendah
d.     Gigi erupsi sempurna
e.      Area yang kontaminasi yang mudah dikontrol
3.5.4.       Fissure Sealant GIC
Semen ionomer kaca merupakan salah satu bahan restorasi yang memiliki sifat adhesif terhadap email dan dentin secara kimia dan memiliki warna yang menyerupai warna gigi asli. Semen ionomer kaca mengandung glas aluminosilikat dan asam poliakrilat. Pengetsaan email tidak diperlukan namun debris organik harus dibersihkan dengan menggunakan bahan kondisioner khusus yang terdapat di kemasannya (asam poliakrilat).
Semen ionomer kaca memiliki kandungan fluoride, dapat melepaskan ion fluor dalam jangka panjang sehingga berfungsi sebagai tempat penyimpanan fluoride serta berikatan dengan dentin dan email secara kimiawi melalui mekanisme pertukaran ion. Keuntungan dari bahan ini yaitu perlekatan ionik permanen terhadap struktur gigi dan kapasitas untuk melepas fluoride, memiliki biokompabilitas yang baik terhadap jaringan gigi, solubilitas rendah, anti karies, perubahan dimensi kecil, dan tahan terhadap fraktur. Kerugian dari bahan ini yaitu tidak dapat menerima tekanan kunyah yang besar, mudah abrasi, dan erosi serta translusennya lebih rendah.
Menurut Anusavice (2004), sifat bahan fissure GIC antara lain:
a.      Kekerasan GIC relatif lebih rendah dari fissure sealant berbasis resin
b.     Sifat adhesi baik
c.      Ikatan kimia baik
d.     Dapat melepas fluor
e.      Mudah larut dalam cairan
Indikasi bahan fissure berbasis resin antara lain:
a.      Diaplikasi pada gigi sulung
b.     Gigi dengan daya kunya relatif rendah
c.      Daerah dengan insidensi karies relatif tinggi
d.     Gigi yang belum erupsi sempurna
e.      Area yang kontaminasi yang sulit dihindari
f.      Pada pasien yang kurang kooperatif

3.6.    Alat dan Bahan yang Digunakan dalam Tindakan Fissure Sealant

Menurut (Lesser,2011) alat dan bahan yang digunakan dalam tindakan fissure sealant antara lain:
a.      Oral diagnostic set
b.     Brush
c.      Pumis
d.     Syringe
e.      Catton roll atau rubber dam
f.      Articulating paper
g.     Handpiece
h.     Bahan fissure sealant (berbasis resin atau GIC)
  3.7.    Prosedur Tindakan Fissure Sealant
3.5.5.       Sealant berbasis resin (Lesser, 2001):
a.      Pembersihan pit dan fisura dengan brush dan pumis
Syarat pumis:
·       Abrasif ringan
·       Tidak ada campuran perasa
·       Tidak mengandung minyak
·       Tidak mengandung fluor
·       Kemampuan poles baik
·       Mampu menghilangkan debris, plak, dan stain
b.     Bilas dengan air
Syarat air:
·       Bersih
·       Tidak mengandung mineral
·       Tidak terkontaminasi
c.      Isolasi gigi dengan catton roll atau rubber dam
d.     Keringkan permukaan gigi selama 20-30 detik dengan udara
Syarat udara:
·       Udara kering
·       Udara tidak lembab
·       Tidak terkontaminasi
·       Dihembuskan langsun pada permukaan daerah kerja dengan tekanan rendah
e.      Pengetsaan
Syarat bahan etsa:
·       Lama pengetsaat sesuai instruksi pabrik
·       Jika bentuk gel, maka pertahankan gel berada di permukaan gigi sampai waktu etsa cukup
·       Jika bentuk cair, maka harus terus- menerus diberikan pada permukaan gigi sampai waktu etsa cukup
f.      Bilas dengan air selam 60 detik
g.     Keringkan dengan udara
h.     Aplikasikan bahan sealant berbasis resin
i.       Evaluasi permukaan oklusal
Tindakan evaluasi:
·       Cek oklusi dengan articulating paper
·       Penyesuaian atau pengurangan bahan yang berlebih
3.5.6.       Sealant GIC (Departement of Health North Sidney, 2008):
a.     Pembersihan pit dan fisura dengan brush dan pumis
b.    Bilas dengan air
c.     Isolasi gigi dengan catton roll atau rubber dam
d.    Keringkan permukaan gigi selama 20-30 detik dengan udara
e.     Aplikasikan bahan dentin conditioner selama 10-20 detik (sesuai instruksi pabrik)
f.     Bilas dengan air selama 60 detik
g.    Keringkan permukaan dengan udara bertekanan rendah selama 20-30 detik
h.    Manipulasi bahan Sealant GIC
i.      Aplikasikan bahan Sealant GIC ke kavitas
j.      Segera aplikasikan bahan varnis setelah bahan Sealant GIC selesai diaplikasikan
k.    Evaluasi permukaan oklusal

3.8.    Evaluasi Fissure Sealant saat Kontrol

Menurut Welburg, et al (2004) dan Departement of Health North Sidney (2008), evaluasi fissure sealant yang dapat dilakukan pada saat kontrol adalah pasien di beritahukan untuk kontrol 6 bulan sekali dan  operator atau dokter gigi memantau semua permukaan gigi yang dilakukan tidakan gissure sealant tertutup rapat secara klinis dan radiografi, jika pasien memiliki status risiko dan terdapat kecurigaan. Namun jika diketahui terjadi kerusakan pada bahan fissure sealant tersebut, maka segera dilakukan aplikasi bahan fissure sealant ulang dengan alasan gigi yang dilakukan fissure sealant masih bebas karies.

3.9.    Apakah Fissure Sealant dapat Diterapkan pada Pasien Dewasa?

Menurut Anwar (2016), molar pertama permanen merupakan gigi yang paling sering rusak akibat dari karies dan juga merupakan gigi yang paling sering direstorasi, bahkan sebanyak 70% gigi molar pertama permanen yang terkena karies harus dicabut. Molar pertama permanen erupsi sebelum gigi geligi susu tanggal dan gigi ini merupakan gigi yang tidak menggantikan gigi susu. Molar pertama permanen merupakan gigi permanen yang pertama kali erupsi, yaitu pada umur 6-7 tahun dan akar gigi terbentuk sempurna pada usia 9-10 tahun.
Tujuan utama diberikannya fissure sealant adalah agar terjadinya penetrasi bahan ke dalam pit dan fissure dan berpolimerisai sehingga menutup daerah tersebut dari masuknya bakteri dan debris. Pertimbangan lain yang perlu diperhatikan dalam pemberian fissure sealant adalah umur anak yang berhubungan dengan waktu awal erupsi gigi-gigi tersebut. Umur 3-4 tahun merupakan waktu yang tepat untuk pemberian fissure sealant pada gigi sulung; umur 6-7 tahun merupakan saat erupsi gigi permanen [1]molar pertama; umur 11-13 tahun merupakan saatnya molar kedua dan premolar erupsi.(Anwar, 2016)

BAB IV PENUTUP

4.1.    Kesimpulan

Pit dan fisura adalah suatu daerah pada permukaan oklusal gigi yang paling mudah terserang karies. Hal ini dihubungkan dengan anatomi dan morfologi pit dan fisura pada permukaan oklusal dan bukal. Fisura didefinisikan sebagai diskontinuitas pada cups yang terjadi karena 2 cups gagal terbentuk pada permukaannya, sedangkan pit merupakan diskontinuitas pada sisi yang lain.
Fissure sealant merupakan bahan yang di letakkan pada pit dan fissure gigi yang bertujuan untuk mencegah proses karies gigi. Fissure sealant diberikan pada awal erupsi gigi agar dapat mencegah bakteri sisa makanan yang berada dalam pit dan fissure. Umur 3-4 tahun merupakan waktu yang tepat untuk pemberian fissure sealant pada gigi sulung; umur 6-7 tahun merupakan saat erupsi gigi permanen molar pertama; umur 11-13 tahun merupakan saatnya molar kedua dan premolar erupsi.

4.2.    Hadits

Dari Umar r.a bahwa Rasulullah  bersabda “ Amal perbuatan paling utama adalah membuat orang mukmin bahagia; menutup aibnya, mengenyangkan rasa laparnya, dan memenuhi kebutuhannya.” (HR. Tabrani)
Penjelasannya:
Tidak diragukan lagi bahwa manfaat besar yang dapat diraih seorang mukmin yang membantu saudaranya adalah pertolongan dan bantuan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan Allah  senantiasa menolong hamba-Nya, selagi hamba itu menolong saudaranya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala memperlakukan seorang hamba sesuai kehendak-Nya. Dia memberikan ilham kepada manusia untik bersegera menolong orang yang memberikan bantuan pada saudaranya dan berusaha melayaninya dengan baik, memenuhi kebutuhannya, dan memperhatikan urusannya (Musthafa & Muhyiddin, 2014).

0 comments:

Instagram


Popular Posts

Blog Archive

Translate