By. Al Balinda Ulin Dya
Harus mulai dari mana?
Yah, pertanyaan ini tiba-tiba saja muncul dikepalaku. Bagaimana caranya mengungkapkan rasa kekagumanku padanya. Hanya bisa memandangnya dari jauh, yaaaaah,, mungkin jantungku berdebar-debar jika aku tiba-tiba saja berpapasan dengannya. Mungkin semua orang seperti itu jika sedang jatuh cinta,, hehehe,,
Yah, pertanyaan ini tiba-tiba saja muncul dikepalaku. Bagaimana caranya mengungkapkan rasa kekagumanku padanya. Hanya bisa memandangnya dari jauh, yaaaaah,, mungkin jantungku berdebar-debar jika aku tiba-tiba saja berpapasan dengannya. Mungkin semua orang seperti itu jika sedang jatuh cinta,, hehehe,,
Awal mula aku mengenalnya semenjak aku
bekerja sebagai staff di sebuah perusahaan pertambangan di kotaku. Dengan tekad
yang bulat, aku harus tinggal di mess dengan anak-anak perempuan yang lain.
Sebagian besar waktuku dihabiskan dsana, hanya hari Sabtu dan Minggu aku baru
bisa balik ke kota asalku. Hfffft,,, berat rasanya harus jauh dari keluargaku,
apalagi sebagai bungsu, aku terbiasa dengan segala sesuatunya sudah siap
tersedia sekarang aku harus bisa hidup mandiri. Fightiiing…. >: )
Dan, akupun untuk pertama kali melihat
dirinya. Ketika aku sedang makan siang di kantin. Jantungku seperti biasa
berdegup dengan kencangnya. Yaah.. mudahan saja temanku yang ada disampingku
tak merasakannya. Aku pun berusaha untuk tenang dan tak terlihat canggung. Aku
harus bisa menjaga perasaan ini, karena aku tidak mau semua teman kerjaku
mengetahuinya. Haaaah,, bisa jadi bulan-bulanan aku dengan mereka..
ckckckkck…
Rasanya seperti lilin yang meleleh (huaaaaa, gedabruuuk!!!!)
Cara jalannya, penampilannya, wajahnya, mungkin menurut orang lain biasa saja. Tapi menurutku, dia istimewa. Karena aku pun menganggapnya biasa saja. Tapi hatiku berkata lain,,, (gedabruuuk,, ) sebenarnya aku ingin bilang,, kalau aku menyukainya apa adanya… plok plok plok plok….. :D
Rasanya seperti lilin yang meleleh (huaaaaa, gedabruuuk!!!!)
Cara jalannya, penampilannya, wajahnya, mungkin menurut orang lain biasa saja. Tapi menurutku, dia istimewa. Karena aku pun menganggapnya biasa saja. Tapi hatiku berkata lain,,, (gedabruuuk,, ) sebenarnya aku ingin bilang,, kalau aku menyukainya apa adanya… plok plok plok plok….. :D
Suatu malam ketika aku sedang bersantai
sambil menonton TV dengan teman satu mess ku, Lidya, aku ungkapkan
segalanya.
“Ada deh pokoknya… “ jawabku setelah diberondong dengan berbagai pertanyaan investigasi dari Lidya
“Satu aja deh Alba clue nya, mmmmmh,,, dia naik bis atau bawa mobil? Dari departemen apa? Huruf depannyaaaaaa aja,,, mmmmhhh,,, pakai sepatu atau lebih sering pakai sandal? Ayolah Albaaa,, kasih tahu namanya, jadi aku bisa cari tahu, dia sudah merried atau belum, nanti kan buat kamu juga,, hehehe” ujar Lidya sambil tertawa. Haaaaaah…. Maaf Lidya,,, ingin rasanya memberitahumu. Tapi aku pun terlalu takut dengan kenyataan….
“Ada deh pokoknya… “ jawabku setelah diberondong dengan berbagai pertanyaan investigasi dari Lidya
“Satu aja deh Alba clue nya, mmmmmh,,, dia naik bis atau bawa mobil? Dari departemen apa? Huruf depannyaaaaaa aja,,, mmmmhhh,,, pakai sepatu atau lebih sering pakai sandal? Ayolah Albaaa,, kasih tahu namanya, jadi aku bisa cari tahu, dia sudah merried atau belum, nanti kan buat kamu juga,, hehehe” ujar Lidya sambil tertawa. Haaaaaah…. Maaf Lidya,,, ingin rasanya memberitahumu. Tapi aku pun terlalu takut dengan kenyataan….
Kenyataannya, aku pun belum pernah
bertegur sapa dengannya. Atau mungkin dia sudah memiliki kekasih disana yang
sangat dicintainya. Yaaaah,,, sekali lagi aku hanya bisa memandangnya dari
jauh. Dengan melihat wajahnya saja, sudah membuat hatiku teduh. Sudah lama aku
tidak merasakan hal ini. Yang ada hanya seperti biasa, tidak ada yang istimewa.
Hanya berlalu begitu saja. Dan pada akhirnya aku tak mengungkapkan segalanya.
Satu hal yang pasti, aku tidak merasa
sedih dengan perasaanku yang tidak jelas ini. Dibilang kasihan juga bisa, tapi
tidak terlalu kasihan juga. Yaaah.. sedang-sedang saja. Karena, perasaan ini
membahagiakanku. Dia sudah membuat hidupku lebih bersemangat. Dia yang sudah
membuatku tersenyum sendiri (mudahan g’gila, xixixi). Segalanya lebih terasa
berwarna sekarang.
Aku pernah kutip satu puisi indah yang
menyentuh jiwa. Dimana, cinta itu tidak harus selalu memiliki. Cinta yang tulus
akan selalu bahagia walaupun tersakiti. Akan selalu mendoakan yang terbaik
untuk orang yang terkasih. Yaaah… dari Lidya aku petik satu kalimat cantik… apa
yaaah,, aku juga lupa,, heee,, intinya,, Ikhlas.
Aku mengenalmu lewat jiwa
Bukan lewat mata
Aku menjadikanmu kekasih lewat hati
Ku tak tahu…
Seperti apa aku dalam pandanganmu
Selayak apa aku dalam kehidupanmu
Tapi yang aku tahu
Meski dengan keterbatasanku
Berbalut kekuranganku
Aku menulis namamu dihatiku
Sejak awal kita bertemu
Dan takkan pernah terganti
Apa lagi terhapus…
Aku mengenalmu lewat jiwa
Bukan lewat mata
Aku menjadikanmu kekasih lewat hati
Ku tak tahu…
Seperti apa aku dalam pandanganmu
Selayak apa aku dalam kehidupanmu
Tapi yang aku tahu
Meski dengan keterbatasanku
Berbalut kekuranganku
Aku menulis namamu dihatiku
Sejak awal kita bertemu
Dan takkan pernah terganti
Apa lagi terhapus…


0 comments:
Post a Comment